https://jurnal.stikesbanyuwangi.ac.id/index.php/WMJ/issue/feedWOMB Midwifery Journal2026-06-30T12:19:22+00:00Fransisca Retno Asihfransisca.ra@stikesbanyuwangi.ac.idOpen Journal Systems<div id="content"> <div id="journalDescription"> <div id="content"> <div id="journalDescription"> <p><strong>WOMB Midwifery Journal</strong> is officially registered in the National Research and Innovation Agency, Directorate of Multimedia Repository and Scientific Publishing, ISSN INDONESIAN NATIONAL CENTER with ISSN Number <strong><a href="https://issn.brin.go.id/terbit/detail/20230515192060123" target="_blank" rel="noopener">2987-4637</a></strong> (online). This journal is published two times a year (<strong>June and December</strong>) by PPPM STIKES Banyuwangi. WOMB Midwifery Journal a scientific journal, double-blind peer-reviewed and open-access journal.</p> <p>WOMB Midwifery Journal is an academic journal organized which focus and scope : preconception, pregnancy, childbirth, maternity, breastfeeding, family planning, reproduction health, adolescent health, maternal health, child health, and midwifery complementary.</p> </div> </div> <p><strong>Journal Description</strong></p> <table class="data" width="100%" bgcolor="#f2faed"> <tbody> <tr valign="top"> <td width="30%"><strong>Journal title</strong></td> <td width="70%"> : <strong>WOMB Midwifery Journal</strong></td> </tr> <tr valign="top"> <td width="30%"><strong>Initials</strong></td> <td width="70%"> : <strong>WOMB Mid.J</strong></td> </tr> <tr valign="top"> <td width="30%"><strong>Frequency</strong></td> <td width="70%"> : <strong>2 issues per year (June & December)</strong></td> </tr> <tr valign="top"> <td width="30%"> </td> <td width="70%"> </td> </tr> <tr valign="top"> <td width="30%"><strong>Online ISSN</strong></td> <td width="70%"> : <strong>2830-7992</strong></td> </tr> <tr valign="top"> <td width="30%"><strong>Editor In Chief</strong></td> <td width="70%"><a> : </a><strong><a>Fransisca Retno Asih</a> </strong>[<a href="https://www.scopus.com/authid/detail.uri?authorId=57223010919">Scopus ID</a>]</td> </tr> <tr valign="top"> <td width="30%"><strong>Publisher</strong></td> <td width="70%"> : <strong>PPPM STIKES Banyuwangi</strong></td> </tr> </tbody> </table> <p><br /><br /></p> </div> </div>https://jurnal.stikesbanyuwangi.ac.id/index.php/WMJ/article/view/803Efektivitas Program Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan (PMT-P) Berbasis Pangan Lokal Terhadap Status Gizi Balita2026-05-09T13:39:48+00:00Komala Sapitrikomalasapitri28@student.uns.ac.idAtriany Nilam Sariatriany.ns@staff.uns.ac.idRufidah Maulinamaulinarufidah@staff.uns.ac.idLuluk Fajria Maulidalulukfajria@staff.uns.ac.idNiken Bayu Argaheninikenbayuargaheni@staff.uns.ac.id<p>Masalah gizi pada balita masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di Indonesia. Pada tahun 2023, prevalensi balita gizi kurang di Jawa Tengah mencapai 5,42%, sedangkan di wilayah kerja Puskesmas Kebakkramat I Kabupaten Karanganyar sebesar 3,9%. Kondisi gizi kurang pada balita dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak. Salah satu upaya penanggulangan yang dilakukan adalah Program Pemberian Makanan Tambahan berbasis pangan lokal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Program Pemberian Makanan Tambahan terhadap status gizi balita usia 6–59 bulan di Puskesmas Kebakkramat I. Penelitian menggunakan desain kuantitatif retrospektif. Populasi penelitian berjumlah 1.894 balita dengan sampel sebanyak 78 responden yang dipilih menggunakan teknik cluster random sampling. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh signifikan Program Pemberian Makanan Tambahan terhadap status gizi balita (p-value <0,05). Balita yang mendapatkan intervensi selama 90 hari mengalami perbaikan status gizi dibandingkan sebelum intervensi diberikan. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa Program Pemberian Makanan Tambahan berbasis pangan lokal efektif dalam meningkatkan status gizi balita dan dapat diterapkan sebagai intervensi gizi di pelayanan kesehatan masyarakat.</p>2026-06-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://jurnal.stikesbanyuwangi.ac.id/index.php/WMJ/article/view/807Hubungan Kebiasaan Vulva Hygiene dengan Kejadian Keputihan Abnormal pada Remaja Putri Tuna Grahita Mampu Didik2026-05-11T08:32:36+00:00Nerli Adria Sinabutarnerlisinabutar@gmail.comTantri Wenny Sitanggangtantrisitanggang2@gmail.comEmah Rohemahemahrohemah52@gmail.comRatu Ayu Syiffa Nur Halizasyiffanurhaliza2808@gmail.com<table> <tbody> <tr> <td> <p>Keputihan abnormal pada remaja putri masih menjadi salah satu masalah kesehatan reproduksi yang cukup sering ditemukan dan berkaitan dengan perilaku vulva hygiene. Remaja putri tunagrahita mampu didik memiliki keterbatasan dalam memahami dan menerapkan perilaku kesehatan reproduksi sehingga berisiko mengalami gangguan kebersihan genital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara perilaku vulva hygiene dengan kejadian keputihan abnormal pada remaja putri tunagrahita mampu didik di SMAKH Kota Tangerang. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel berjumlah 54 responden yang dipilih menggunakan teknik probability sampling dengan pendekatan simple random sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner perilaku vulva hygiene dan kejadian keputihan abnormal melalui wawancara terstruktur. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Fisher’s Exact sebagai alternatif uji chi-square serta uji kekuatan hubungan menggunakan Cramer’s V. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia 15 tahun (46,3%) dan berasal dari kelas X (46,3%). Mayoritas responden memiliki perilaku vulva hygiene kategori kurang (40,7%), dan sebanyak 57,4% mengalami keputihan abnormal. Pada responden dengan perilaku vulva hygiene baik, sebagian besar mengalami keputihan normal (69,2%), sedangkan pada kategori kurang mayoritas mengalami keputihan abnormal (86,4%). Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara perilaku vulva hygiene dengan kejadian keputihan abnormal (p=0,001) dengan kekuatan hubungan tergolong kuat (Cramer’s V=0,53). Temuan ini menunjukkan pentingnya edukasi kesehatan reproduksi dan pendampingan praktik vulva hygiene pada remaja tunagrahita mampu didik sebagai upaya promotif dan preventif dalam menurunkan risiko keputihan abnormal.</p> </td> </tr> </tbody> </table>2026-06-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://jurnal.stikesbanyuwangi.ac.id/index.php/WMJ/article/view/824Hubungan Literasi Kesehatan Digital dengan Tingkat Kecemasan pada Ibu Hamil Primigravida2026-05-18T03:37:38+00:00Fara Khansa Azizahfarakhansa96@gmail.comDitya Yankusuma Setianiditya.yankusuma88@gmail.comArlia Purwaningsiharlia.purwaningsih@payungnegeri.ac.id<p data-pm-slice="0 0 []">Latar Belakang: Ibu hamil primigravida lebih rentan mengalami kecemasan karena memiliki pengalaman kehamilan yang terbatas serta kebutuhan informasi kesehatan yang lebih tinggi. Meningkatnya penggunaan media digital sebagai sumber informasi kesehatan menunjukkan pentingnya literasi kesehatan digital dalam membantu ibu hamil mengakses, memahami, dan mengevaluasi informasi kesehatan yang diperoleh secara daring. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara literasi kesehatan digital dan tingkat kecemasan pada ibu hamil primigravida. Metode: Penelitian kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional dilakukan pada Januari 2026 di Kecamatan X, Kabupaten X. Sebanyak 136 ibu hamil primigravida dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Literasi kesehatan digital diukur sebagai variabel independen, sedangkan tingkat kecemasan sebagai variabel dependen. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-square dengan perhitungan odds ratio (OR) dan confidence interval (CI) 95%. Nilai signifikansi ditetapkan pada p<0,05. Hasil: Sebanyak 56,6% responden memiliki literasi kesehatan digital yang baik dan 71,3% mengalami kecemasan ringan. Hasil uji Chi-square menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara literasi kesehatan digital dan tingkat kecemasan (p=0,020). Ibu hamil primigravida dengan literasi kesehatan digital yang kurang memiliki risiko 2,436 kali lebih besar mengalami kecemasan berat dibandingkan dengan mereka yang memiliki literasi kesehatan digital yang baik (OR=2,436; 95% CI=1,140–5,206). Kesimpulan: Literasi kesehatan digital berhubungan secara signifikan dengan tingkat kecemasan pada ibu hamil primigravida. Peningkatan literasi kesehatan digital melalui program edukasi antenatal dapat membantu ibu hamil memperoleh informasi kesehatan yang lebih terpercaya serta mengurangi risiko kecemasan selama kehamilan.</p>2026-06-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://jurnal.stikesbanyuwangi.ac.id/index.php/WMJ/article/view/805Hubungan Jenis Persalinan dan Dukungan Keluarga dengan Pemberian ASI Eksklusif pada Ibu Primipara 2026-05-18T04:09:06+00:00Dwitya Ayu Lestaridtyas1006@gmail.comIsmiati Ismiatiismi51ati@gmail.comLia Arian Aprianiarianlia020495@gmail.comFitria Yulastinifitriayulastini90@gmail.comAnastasya Agustiarinianastasyaagustiarini@gmail.comReza Indra Wigunarezawiguna13@gmail.com<p>Pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan merupakan upaya penting dalam meningkatkan kesehatan bayi. Namun, secara global cakupan ASI eksklusif masih rendah, dengan hanya sekitar 41% ibu yang mampu mempertahankan praktik tersebut. Berbagai faktor diketahui memengaruhi keberhasilan pemberian ASI, di antaranya jenis persalinan dan dukungan keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara jenis persalinan dan dukungan keluarga dengan pemberian ASI eksklusif pada ibu primipara. Penelitian ini menggunakan desain analitik kuantitatif dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Sampel berjumlah 50 ibu primipara yang dipilih menggunakan teknik total sampling di wilayah kerja Puskesmas Batuyang. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi α = 0,05. Terdapat hubungan yang signifikan antara jenis persalinan dengan pemberian ASI eksklusif (p = 0,013; OR = 5,818), di mana ibu yang melahirkan secara pervaginam lebih berpeluang memberikan ASI eksklusif dibandingkan dengan persalinan sesar. Dukungan keluarga juga berhubungan signifikan dengan pemberian ASI eksklusif (p = 0,022; OR = 5,844), yang menunjukkan bahwa ibu dengan dukungan keluarga yang baik memiliki peluang lebih besar untuk berhasil menyusui secara eksklusif. Jenis persalinan dan dukungan keluarga merupakan faktor penting yang berhubungan dengan keberhasilan pemberian ASI eksklusif pada ibu primipara. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan edukasi serta keterlibatan keluarga dalam mendukung praktik menyusui.</p>2026-06-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://jurnal.stikesbanyuwangi.ac.id/index.php/WMJ/article/view/835Nyeri Simfisis Pubis dan Kualitas Tidur pada Trimester Akhir Kehamilan: Studi Intervensi Modified Prenatal Yoga2026-05-31T13:29:38+00:00Yunita Laila Astutiyunita.astuti@poltekkesjakarta1.ac.idVina Dwi Wahyunitavinawahyunita@gmail.comFitrah Ivana Paisalfitrah.faisal@ymail.comMasitamasitadarmawan76@gmail.comAbdullah Antariaaaantaria@gmail.com<p>Latar Belakang: Secara global, prevalensi insomnia trimester ketiga mencapai lebih dari 40% dan sering kali diperparah oleh keluhan nyeri simfisis pubis. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh intervensi modified prenatal yoga sebagai solusi non-farmakologis untuk menurunkan intensitas nyeri dan meningkatkan kualitas tidur ibu hamil trimester akhir. Metode: Desain kuasi-eksperimental two-group pre-test/post-test with control group dilakukan pada Mei–November 2025. Populasi penelitian adalah seluruh ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Cilandak, Jakarta Selatan. Melalui purposive sampling, terpilih 40 ibu hamil trimester ketiga yang dibagi rata ke dalam kelompok intervensi (n=20) dan kontrol (n=20). Kriteria inklusi meliputi domisili setempat, kehamilan fisiologis dengan nyeri simfisis pubis, bersedia mengikuti intervensi, dan mampu mengoperasikan smartphone, sedangkan kriteria eksklusi adalah drop-out selama penelitian. Tingkat nyeri diukur menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) skala 0–10, sedangkan kualitas tidur dinilai dengan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) sebelum dan sesudah intervensi. Data dianalisis menggunakan uji Wilcoxon dan Mann-Whitney. Hasil: Hasil uji Wilcoxon untuk kelompok intervensi menunjukkan Z = -2,714 dan tingkat signifikansi p = 0,007, yang mengindikasikan adanya perbedaan yang signifikan pada skor skala nyeri sebelum dan sesudah mengikuti yoga prenatal. Namun, uji Mann-Whitney tidak menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan dalam kualitas tidur antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol (p = 0,881). Kesimpulan: Intervensi modified prenatal yoga efektif menurunkan intensitas nyeri simfisis pubis pada ibu hamil trimester ketiga, namun belum berdampak signifikan terhadap kualitas tidur. Penelitian selanjutnya direkomendasikan untuk memperpanjang durasi intervensi dan mengevaluasi faktor psikologis atau lingkungan yang memengaruhi tidur ibu.</p>2026-06-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://jurnal.stikesbanyuwangi.ac.id/index.php/WMJ/article/view/832Hubungan Frekuensi, Ketepatan ANC, dan Lama Waktu Istirahat dengan Kejadian Preeklampsia2026-06-11T11:26:27+00:00Fajar Tri Utamishafiraksh@gmail.comSri Handayanihandaeub@gmail.comTitik Wijayantititikeub.tw@gmail.com<p data-pm-slice="0 0 []">Preeklampsia merupakan salah satu gangguan hipertensi dalam kehamilan yang muncul setelah usia gestasi 20 minggu dengan karakteristik utama berupa hipertensi dan proteinuria yang berisiko tinggi memicu eklampsia serta komplikasi janin seperti prematuritas. Preeklampsia pada ibu hamil dapat dilakukan upaya preventif salah satunya melalui ketepatan dalam melakukan ANC. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi adanya hubungan antara frekuensi, ketepatan ANC dan lama waktu istirahat dengan kejadian preeklampsia Januari hingga Maret 2026. Metode analisis data menggunakan uji chi square, sampel menggunakan rumus tekhnik proportional cluster sampling berjumlah 202 responden, penelitian dilakukan di Kabupaten Boyolali, alat ukur yang digunakan adalah buku KIA. Hasil penelitian ini menunjukkan frekuensi ANC selama kehamilan dengan kejadian preeklampsia dengan nilai ρ value 0,003. Pada ketepatan ANC dengan kejadian preeklampsia dengan nilai ρ value 0,004 dan pada lama waktu istirahat dengan kejadian preeklampsia dengan nilai ρ value 0,03. Temuan ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara frekuensi, ketepatan ANC dan lama waktu istirahat. Diharapkan tenaga kesehatan dapat memberikan edukasi pentingnya ANC untuk mencegah terjadinya preeklampsia.</p>2026-06-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://jurnal.stikesbanyuwangi.ac.id/index.php/WMJ/article/view/843Faktor Risiko Kejadian Preeklampsia Pada Ibu Hamil: Studi Case-Control di RS JIH Yogyakarta2026-06-23T02:17:33+00:00Linda Okftariniokftarini.bidan13@gmail.comYunri Meridayunrimerida@gunabangsa.ac.idRiska Ismawati Hakimriska.ih@gunabangsa.ac.id<p data-pm-slice="0 0 []">Latar Belakang: Preeklampsia merupakan komplikasi obstetri utama yang berkontribusi terhadap 2–8% kehamilan dan lebih dari 46.000 kematian ibu setiap tahun secara global. Data RS JIH Yogyakarta menunjukkan peningkatan kasus dari 35 (2023), 40 (2024), menjadi 57 (2025). Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor risiko maternal yang berhubungan dengan kejadian preeklampsia. Metode: Studi observasional analitik dengan desain case-control menggunakan data sekunder rekam medis ibu hamil periode 2023–2025 (populasi: 3.755). Sampel 264 responden terdiri dari kelompok kasus (n=132, total sampling) dan kontrol (n=132, simple random sampling). Analisis dilakukan secara univariat, bivariat (Chi-Square/Fisher’s Exact Test), uji normalitas (Kolmogorov-Smirnov), serta multivariat dengan regresi logistik. Hasil: Uji bivariat menunjukkan hubungan signifikan antara usia (p=0,021), gravida (p=0,034), IMT (p=0,015), penambahan berat badan (p=0,000), dan riwayat hipertensi (p=0,029) dengan preeklampsia. Analisis multivariat menegaskan penambahan berat badan sebagai faktor dominan (Wald=25,418; p=0,000; Exp(B)=0,129; 95% CI: 0,058–0,286), dengan risiko 87,1% lebih rendah pada ibu dengan kenaikan sesuai rekomendasi. Kesimpulan: Usia, gravida, IMT, riwayat hipertensi, serta penambahan berat badan berhubungan signifikan dengan preeklampsia. Faktor dominan adalah pola penambahan berat badan selama kehamilan.</p>2026-06-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://jurnal.stikesbanyuwangi.ac.id/index.php/WMJ/article/view/852Dampak Stunting Terhadap Kemandirian Sosial Pada Balita di Kecamatan Tilango Kabupaten Gorontalo, Indonesia2026-06-16T05:06:38+00:00Rahma Dewi Agustinirahma.senior@gmail.comNurhidayahdhayatasa@gmail.comRina Sulisthia Arbierinasulisthia@poltekkesgorontalo.ac.id<p data-pm-slice="0 0 []">Latar Belakang: Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang penting di Indonesia dan berhubungan dengan berbagai gangguan perkembangan anak. Meskipun dampak stunting terhadap perkembangan kognitif dan bahasa telah banyak diteliti, bukti mengenai hubungannya dengan kemandirian sosial pada anak balita di wilayah Indonesia Timur masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara stunting dan kemandirian sosial pada anak usia 6–60 bulan di Kecamatan Tilango, Kabupaten Gorontalo. Metode: Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan melibatkan 223 anak usia 6–60 bulan yang dipilih melalui consecutive sampling. Status stunting ditentukan berdasarkan indeks tinggi badan menurut umur (TB/U) menggunakan standar WHO. Kemandirian sosial dinilai menggunakan domain Kemandirian Sosial pada Kuesioner Pra-Skrining Perkembangan (KPSP). Analisis dilakukan menggunakan uji Chi-square dan Prevalence Odds Ratio (POR) dengan interval kepercayaan 95%. Hasil: Prevalensi stunting sebesar 31.8%. Sebanyak 32.3% anak menunjukkan kemandirian sosial yang tidak sesuai dengan usianya. Terdapat hubungan yang bermakna antara stunting dan kemandirian sosial (p=0.001). Anak stunting memiliki risiko 2.76 kali lebih tinggi mengalami gangguan kemandirian sosial dibandingkan anak dengan status tinggi badan normal (POR=2.76; 95% CI: 1.524–4.988). Hampir separuh anak stunting (47.9%) menunjukkan kemandirian sosial yang tidak sesuai, sedangkan pada anak normal hanya 25%. Kesimpulan: Stunting berhubungan secara signifikan dengan rendahnya kemandirian sosial pada anak balita. Intervensi yang mengintegrasikan perbaikan gizi dan stimulasi psikososial perlu diperkuat untuk mendukung perkembangan sosial dan kemampuan adaptif anak di wilayah dengan prevalensi stunting tinggi.</p>2026-06-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://jurnal.stikesbanyuwangi.ac.id/index.php/WMJ/article/view/854Optimalisasi Kadar Hemoglobin Dan Kepatuhan Konsumsi Tablet Tambah Darah Melalui Intervensi Edukasi Poster Pada Ibu Hamil: Studi Quasi Eksperimen2026-06-28T01:45:23+00:00Rizki Dyah Haninggarrizki.dyah89@gmail.comAbbas Mahmudabbas.mahmud11@gmail.comYulianti Anwaryuliantianwar345@gmail.comAjeng Hayuning Tiyasajenghayuning@poltekkesmamuju.ac.id<p data-pm-slice="0 0 []">Latar Belakang: Anemia pada ibu hamil masih menjadi masalah kesehatan global. Kepatuhan konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) berperan penting dalam pencegahan anemia, namun masih belum optimal. Edukasi melalui media poster diharapkan dapat meningkatkan kepatuhan konsumsi TTD dan kadar hemoglobin ibu hamil. Metode: Penelitian quasi experimental dengan desain pre-post test control group melibatkan 60 ibu hamil yang dipilih secara purposive sampling, terdiri atas 30 responden kelompok intervensi (edukasi poster) dan 30 responden kelompok kontrol (edukasi lisan) di wilayah kerja Puskesmas Binanga dan Puskesmas Rangas, Kabupaten Mamuju selama enam minggu. Kepatuhan konsumsi TTD diukur menggunakan metode pill count dan kadar hemoglobin diperiksa menggunakan alat Hb digital. Analisis data menggunakan uji Paired T-Test, Wilcoxon Signed Ranks Test, dan Mann–Whitney U Test. Hasil: Kadar Hb kelompok intervensi meningkat dari 12,25±1,12 g/dL menjadi 12,87±1,08 g/dL (p=0,001), sedangkan kelompok kontrol menurun dari 12,56±0,84 g/dL menjadi 12,14±1,09 g/dL (p=0,002). Kepatuhan konsumsi TTD meningkat dari 71,43% menjadi 80,56% (p=0,000) pada kelompok intervensi dan dari 72,14% menjadi 73,41% (p=0,112) pada kelompok kontrol. Terdapat perbedaan bermakna antarkelompok pada kadar hemoglobin (p=0,011) dan kepatuhan konsumsi TTD (p=0,023). Kesimpulan: Edukasi berbasis poster lebih efektif dibandingkan edukasi lisan dalam meningkatkan kepatuhan konsumsi TTD dan kadar hemoglobin ibu hamil.</p>2026-06-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://jurnal.stikesbanyuwangi.ac.id/index.php/WMJ/article/view/823Hubungan Pengetahuan dan Sikap Remaja Putri dalam Menghadapi Menarche2026-06-08T02:42:25+00:00Ade Zayu Cempaka Sariade_zayu@poltekkesbengkulu.ac.idRolita Efrianiefrianirolita@poltekkesbengkulu.ac.idYuniartiyuniarti.yuni80@gmail.com<p><strong><em>Background: </em></strong><em>Menarche, or the first menstrual experience, is one of the most significant events in early adolescence. Many adolescent girls experience shock and confusion during their first menstruation, largely due to limited knowledge about their own physiology, particularly regarding menstruation. Insufficient understanding of reproductive health at the onset of menarche may increase the risk of anemia, unsafe sexual behaviors, unintended pregnancy, unsafe abortion, and sexually transmitted infections (STIs), including HIV/AIDS. <strong>Methods: </strong>This quantitative study employed a cross-sectional design and was conducted at MIN 1 Bengkulu City with a total sample of 74 fifth-grade female students who had not yet experienced menarche, selected using total sampling. <strong>Results: </strong>The results showed that most respondents (55.4%) were not prepared for menarche. Bivariate analysis indicated a significant relationship between knowledge and readiness to face menarche (p-value = 0.000). However, a significant association was found between attitude and readiness to face menarche (p-value = 0.013). <strong>Conclusion: </strong>These findings are expected to serve as a reference for educational institutions to collaborate in providing education and preparation programs for students, enabling them to be better prepared for menarche and future reproductive health. Additionally, the results may serve as a basis for further research on adolescent girls’ readiness for menarche.</em></p>2026-06-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://jurnal.stikesbanyuwangi.ac.id/index.php/WMJ/article/view/836Efek Pemberian Media SIPUTIH Terhadap Pengetahuan Keputihan Remaja Putri2026-06-12T05:41:56+00:00Arifandiah Nursyahputriarifandiahnursyahputri4@gmail.comAzizatul Hamidiyahazizatulhamidiyah@gmail.comIfa Nurhasanahifanurhasanah10@gmail.com<p data-pm-slice="0 0 []">Latar Belakang: Masalah kesehatan reproduksi salah satunya keputihan masih banyak terjadi pada remaja putri disebabkan oleh kurangnya pengetahuan yang menyebabkan remaja tidak dapat membedakan antara keputihan normal dan keputihan tidak normal. Tujuan dilakukannya penelitian ini untuk mengetahui efek media SIPUTIH terhadap pengetahuan keputihan remaja putri. Metode: Penelitian quasy eksperimental melalui desain pretest-posttest control group dengan membagi responden ke dalam kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Penelitian ini melibatkan 34 responden remaja usia 17-18 tahun di Asrama Nyai Nur Sari yang dilakukan pada Februari 2026. Sampel tersebut dipilih menggunakan teknik cluster sampling secara proporsional berdasarkan unit kamar, kemudian dibagi kedalam dua kelompok, yaitu 17 responden sebagai kelompok intervensi dan 17 responden kelompok kontrol. Prosedur meliputi pretest, pemberian edukasi (kelompok intervensi: media SIPUTIH, kelompok kontrol: PowerPoint) dan posttest. Pengetahuan diukur dengan kuesioner berjumlah 25 item (valid; α = 0,767). Analisis data dilakukan dengan uji Wilcoxon dan uji Mann-Whitney. Hasil: Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan yang signifikan setelah diberikan intervensi (P-value<0,05). Selain itu, berdasarkan uji Mann-Whitney, terdapat efek media SIPUTIH terhadap pengetahuan keputihan remaja putri (P-value<0,05). Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan bahwa ada efek media SIPUTIH terhadap pengetahuan keputihan remaja putri. Media SIPUTIH dapat digunakan sebagai opsi untuk mengoptimalkan edukasi kesehatan reproduksi khususnya tentang keputihan.</p>2026-06-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://jurnal.stikesbanyuwangi.ac.id/index.php/WMJ/article/view/865Perbedaan Antara Pemberian Skin Wrap Dan Pemberian Inisiasi Menyusu Dini (IMD) Terhadap Kejadian Hipotermia Pada Bayi Baru Lahir2026-06-28T02:41:38+00:00Annah Hubaedahannahubaedah@yahoo.co.idSusmiati Ningsihsusmiatiningsih4@gmail.comRetno Setyo Iswatiretnoiswati@unipasby.ac.id<p data-pm-slice="0 0 []">Latar Belakang: Bayi baru lahir mengalami kehilangan panas sekitar empat kali lebih besar dibandingkan orang dewasa. Dalam 30 menit pertama setelah lahir, suhu tubuh bayi dapat menurun sebesar 3–4°C. Penelitian ini bertujuan membandingkan efektivitas Skin Wrap dan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dalam mencegah hipotermia pada bayi baru lahir. Metode: Desain penelitian quasi-experimental dengan two-group pretest–posttest yang terbagi kelompok Skin Wrap (n = 18) dan kelompok Inisiasi Menyusu Dini (IMD) (n = 18). Suhu tubuh diukur menggunakan termometer digital, sedangkan data observasi dikumpulkan menggunakan lembar observasi terstandar. Uji normalitas dilakukan menggunakan uji Shapiro–Wilk, dan analisis perbedaan antar kelompok dilakukan menggunakan Independent Samples t-test dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Result : Skin Wrap rata-rata meningkatkan suhu tubuh dari 35,64°C menjadi 36,91°C. IMD rata-rata meningkatkan suhu tubuh dari 35,66°C menjadi 36,68°C. Hasil Independent Samples t-test menunjukkan berbedaan statistik dengan nilai intervensi (p = 0,021), yang menunjukkan bahwa Skin Wrap lebih efektif meningkatkan suhu tubuh bayi baru lahir dibandingkan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Kesimpulan:. Skin Wrap secara signifikan lebih efektif dibandingkan Inisiasi Menyusu Dini dalam mencegah hipotermia pada bayi baru lahir. Oleh karena itu, Skin Wrap dapat dipertimbangkan sebagai salah satu intervensi perawatan termal yang efektif untuk mengurangi risiko hipotermia neonatal.</p>2026-06-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://jurnal.stikesbanyuwangi.ac.id/index.php/WMJ/article/view/825Hubungan Praktik Pengasuhan Orang Tua Dengan Kejadian Stunting Pada Balita: Studi Kasus Kontrol2026-06-10T03:11:50+00:00Puji Lestaripujilesta1010@gmail.comTantri Wenny Sitanggangtantrisitanggang2@gmail.comEmah Rohemahemahrohemah52@gmail.comAnnisa Azzahra Tri Rahmawatiazzahraannisa302@gmail.com<p data-pm-slice="0 0 []">Latar Belakang: Stunting merupakan masalah gizi kronis yang masih banyak ditemukan pada balita di Indonesia. Praktik pengasuhan orang tua, terutama dalam pemenuhan gizi, perawatan kesehatan, dan stimulasi tumbuh kembang anak Menjadi faktor penting dalam menentukan kejadian stanting Balita. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan pola asuh orang tua dengan kejadian stunting pada balita di Desa Sindang Sono, Kabupaten Tangerang tahun 2025. Metode: Penelitian kuantitatif dengan rancangan case-control melibatkan 54 responden (16 kasus (balita stunting) dan 38 kontrol (balita tidak stunting), yang dipilih dengan teknik quota sampling. Instrumen menggunakan kuesioner. Status stunting ditentukan berdasarkan indeks Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) sesuai standar antropometri WHO, dikategorikan stunting apabila nilai z-score < -2 SD. Analis menggunakan uji Chi-Square dan Odds Ratio (OR) dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil: Sebagian besar responden menerapkan pola asuh demokratis (59,2%), dan pola asuh non-demokratis sebesar 40,8%. Balita yang mengalami stunting berjumlah 16 anak (29,6%), sementara 38 anak (70,4%) tidak stunting. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua dan kejadian stunting (p=0,031). Nilai OR=2,444 (95% CI: 1,149–5,326) menunjukkan bahwa balita dengan pola asuh non-demokratis memiliki peluang 2,44 kali lebih besar mengalami stunting dibandingkan balita dengan pola asuh demokratis. Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan antara pola asuh orang tua dan kejadian stunting pada balita. Penguatan edukasi pengasuhan, pemenuhan gizi, dan pemantauan pertumbuhan anak perlu ditingkatkan untuk mencegah stunting.</p>2026-06-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://jurnal.stikesbanyuwangi.ac.id/index.php/WMJ/article/view/837Hubungan Pengetahuan dan Sikap Dengan Kepatuhan Konsumsi Tablet Fe Pada Remaja Putri2026-06-22T06:58:55+00:00Dewi Fajar Watidewifajar1824@gmail.comSyarini Novitanovitajuman@gmail.com<p data-pm-slice="0 0 []">Latar Belakang: Penyebab remaja putri mengalami anemia, dikarenakan adanya beberapa faktor seperti mengalami menstruasi. Oleh karena itu, remaja putri membutuhkan asupan zat gizi yang cukup, terutama zat besi (Fe), untuk menggantikan zat besi yang hilang dan membantu pembentukan sel darah merah sehingga terhindar dari anemia. Berdasarkan data dari Desa Sidomulyo diketahui bahwa capaian pemberian tablet TTD pada remaja putri di tahun 2022 sebesar 90% namun hanya mencapai 58,9%. Tujuan penelitian diketahui hubungan pengetahuan dan sikap dengan kepatuhan konsumsi tablet Fe pada remaja di Desa Sidomulyo Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh remaja putri sebanyak 673 remaja dengan sampel yang digunakan sebanyak 120 responden menggunakan Teknik purposive sampling. Penelitian telah dilakukan di Desa Sidomulyo Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung pada bulan Mei – Agustus 2025. Pengumpulan data menggunakan lembar kuesioner, analisis data secara univariat dan bivariat (uji chi square). Hasil: Hasil uji chi square terdapat hubungan pengetahuan dengan kepatuhan konsumsi tablet Fe p-value = 0,000; OR = 24.980, dan adanya hubungan sikap dengan kepatuhan konsumsi tablet Fe p-value = 0,000; OR = 20.182. Kesimpulan: Remaja yang memiliki pengetahuan kurang dan sikap negatif lebih berisiko >20x tidak patuh mengonsumsi tablet Fe, Untuk itu, memberikan penyuluhan tentang anemia pada remaja perlu dilakukan secara berkelanjutan agar remaja menyadari pentingnya mengkonsumsi tablet besi (Fe ) dengan patuh.</p>2026-06-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 https://jurnal.stikesbanyuwangi.ac.id/index.php/WMJ/article/view/838Analisis Faktor Risiko Kejadian Anemia Pada Periode Nifas2026-06-24T23:53:12+00:00Okta Zenita Siti Fatimahokta.zenita@gmail.comSeventina Nurul Hidayahseventinanurulhidayah@gmail.comRosa Susantirosasusanti36@gmail.com<p data-pm-slice="0 0 []">Latar Belakang: Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan yang dapat terjadi pada ibu nifas dan dapat memengaruhi proses pemulihan setelah persalinan. Anemia pada masa nifas dapat disebabkan oleh kehilangan darah saat persalinan, kurangnya asupan nutrisi, serta kondisi kesehatan ibu selama kehamilan. Faktor yang diduga berhubungan dengan kejadian anemia pada ibu nifas meliputi usia, paritas, pendidikan, pekerjaan, status gizi, dan pengetahuan. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif analitik observasional dengan desain cross-sectional. Penelitian dilakukan di Klinik Pratama Rawat Inap Cici Lian Kranggan Tahun 2025 dengan jumlah responden sebanyak 85 ibu nifas. Variabel penelitian terdiri dari kejadian anemia (variabel terikat) serta umur, paritas, pendidikan, pekerjaan, status gizi (LiLA), dan pengetahuan (variabel bebas). Instrumen yang digunakan meliputi kuesioner untuk data pengetahuan dan sosiodemografi, lembar observasi rekam medis untuk umur dan paritas, serta pita LiLA untuk mengukur status gizi. Analisis data menggunakan Uji Chi-Square. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa umur ibu (p<0,002), pendidikan (p<0,028), paritas (p<0,034), pekerjaan (p<0,014), status gizi (p<0,004), dan pengetahuan (p<0,003) berhubungan dengan kejadian anemia pada ibu nifas. Kesimpulan: Karakteristik sosiodemografi, biologis, dan perilaku berhubungan dengan kejadian anemia ibu nifas. Direkomendasikan bagi pihak klinik untuk menerapkan program pemantauan terpadu yang mencakup skrining Hb berkala pada kunjungan nifas, konseling pemenuhan gizi KEK, edukasi KB pascapersalinan untuk pembatasan paritas, serta penyediaan media KIE (Komunikasi, Informasi, Edukasi) yang fleksibel bagi ibu nifas yang bekerja.</p>2026-06-30T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026