Exploring the Experiences of Non-Native English-Speaking Teachers in TESOL: A Narrative Inquiry
DOI:
https://doi.org/10.54832/jupe2.v4i1.763Keywords:
English teaching, NNEST, TESOLAbstract
Abstrak
Penelitian ini mengkaji pengalaman profesional, negosiasi identitas, dan tantangan pedagogis yang dihadapi oleh guru bahasa Inggris nonpenutur asli (NNEST) dalam bidang TESOL. Penelitian ini menyoroti persoalan berkelanjutan terkait rendahnya legitimasi dan bias penutur asli, sekaligus menanggapi kesenjangan penelitian mengenai pengalaman hidup NNEST lintas konteks budaya serta agensi mereka dalam menghadapi bias tersebut. Dengan menggunakan pendekatan inkuiri naratif, data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dan analisis dokumen terhadap dua NNEST yang mengajar di Indonesia dan Tiongkok, kemudian dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan adanya tantangan yang terus berlangsung terkait persepsi sosial tentang kemahiran berbahasa, preferensi siswa terhadap penutur asli, serta keterbatasan dukungan institusional. Namun demikian, para partisipan memanfaatkan latar belakang multibahasa dan pengalaman belajar bahasa mereka untuk mengembangkan strategi pembelajaran yang responsif secara kultural dan meningkatkan keterlibatan peserta didik. Meskipun kesempatan pendampingan terbatas, kedua guru secara aktif mengupayakan pengembangan profesional. Studi ini menegaskan kemampuan NNEST dalam mengubah tantangan menjadi pertumbuhan profesional serta menekankan peran penting mereka dalam menjembatani kesenjangan linguistik dan budaya, sekaligus menyerukan kebijakan yang lebih inklusif dan program pengembangan profesional yang lebih mudah diakses.
Kata Kunci: Pengajaran Bahasa Inggris, NNEST, TESOL.
Abstract
This study examined the professional experiences, identity negotiations, and pedagogical challenges of non-native English-speaking teachers (NNESTs) in TESOL. It addressed persistent issues of reduced legitimacy and native-speaker bias, while responding to gaps in research on NNESTs’ lived experiences across cultural contexts and their agency in navigating such bias. Using a narrative inquiry approach, data were collected through semi-structured interviews and document analysis with two NNESTs teaching in Indonesia and China, and analysed thematically. Findings revealed ongoing challenges related to societal perceptions of proficiency, student preference for native speakers, and limited institutional support. However, participants leveraged their multilingual backgrounds and language-learning experiences to develop culturally responsive strategies that enhanced learner engagement. Despite limited mentorship, both teachers actively pursued professional development. The study highlights NNESTs’ capacity to transform challenges into professional growth and underscores their vital role in bridging linguistic and cultural gaps, calling for more inclusive policies and accessible professional development.






